METROINFONEWS.COM | Makassar – Sulsel – Rabu/4/2/2026 – Tragedi yang menimpa seorang anak sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur bukan sekadar kabar duka yang lalu begitu saja. Peristiwa ini adalah peringatan keras bahkan tamparan terbuka bagi negara. Ia menunjukkan dengan telanjang bahwa sistem yang selama ini dibanggakan ternyata gagal melindungi rakyatnya yang paling rentan.
Yang kita hadapi hari ini bukanlah semata krisis moral generasi muda, apalagi soal lemahnya iman atau rapuhnya mental individu. Ini adalah krisis keberpihakan negara. Negara absen pada saat rakyat kecil membutuhkan perlindungan paling mendasar: rasa aman, akses pendidikan yang adil, serta dukungan kesehatan mental yang layak.
Generasi muda dipaksa tumbuh di tengah tekanan berlapis. Judi online dibiarkan merajalela, menggerogoti nalar dan masa depan anak-anak bangsa. Pinjaman online dilegalkan dan dinormalisasi, menjebak keluarga miskin dalam lingkaran utang yang nyaris mustahil diputus. Sementara itu, akses pendidikan terus dipersempit oleh kemiskinan struktural dan negara justru tampak setengah hati hadir, lebih sibuk mengatur angka ketimbang menyelamatkan manusia.
Sebagaimana ditegaskan Kifli Bonar, Kader Solidaritas Rakyat Sulawesi Selatan, tragedi ini bukanlah kegagalan individu. Ini adalah kegagalan struktural. Sistem dibiarkan longgar, pengawasan berjalan formalitas, dan kebijakan lebih ramah pada modal daripada pada keselamatan rakyat. Ketika negara memilih bersikap permisif terhadap praktik yang merusak kehidupan sosial, maka korban bukan lagi sekadar angka melainkan nyawa manusia.
Di satu sisi, pejabat sibuk memamerkan grafik pertumbuhan ekonomi, indeks capaian, dan presentasi penuh warna. Di sisi lain, di lapangan, anak-anak sekolah tumbang oleh kemiskinan yang tak pernah benar-benar dihitung dalam statistik negara. Ada pelajar yang kehilangan harapan bukan karena malas atau tidak mau berjuang, melainkan karena dipaksa bertahan dalam sistem yang menuntut tanpa menopang.
Kita hidup di zaman ketika keberhasilan negara diukur dari slide presentasi, bukan dari apakah rakyatnya bisa hidup layak dan bermartabat. Data dipoles rapi, realitas disembunyikan. Padahal, di balik angka-angka itu ada kegelisahan kolektif: kecemasan yang menumpuk, depresi yang tak tertangani, serta masa depan yang semakin sempit bagi mereka yang lahir dari keluarga miskin.
Karena itu, sungguh tidak bermoral jika tragedi demi tragedi terus dibebankan kepada generasi muda.
Yang seharusnya diadili bukanlah korban, melainkan cara negara membangun sistemnya sistem yang menekan, membiarkan, lalu menyalahkan rakyat ketika mereka jatuh.
Ini bukan soal statistik. Ini bukan soal citra. Ini soal manusia
dan negara yang gagal berpihak kepadanya.(/*)
Oleh: Kader Solidaritas
Rakyat Sulawesi Selatan
Editor : Redaksi











